Dari Antena Rakitan hingga Kontak Astronaut: Kisah Komunitas Amatir Radio Satelit Indonesia

Dunia komunikasi amatir radio (AR) memiliki segmen unik yang dikenal sebagai komunikasi satelit. Para pegiatnya tergabung dalam komunitas Amsat, sebuah singkatan dari Amateur Satellite. Di Indonesia, antusiasme terhadap komunikasi satelit cukup tinggi, tercermin dari grup WhatsApp Amsat-Id yang beranggotakan 396 AR aktif dari seluruh penjuru call area, mulai dari 0 hingga 9.

Salah satu anggota Amsat-Id, YD9IHG, mengakui dirinya tidak terlalu aktif, meski telah memenuhi syarat masuk grup dengan mencatat lebih dari 20 QSO (Quasi-Stellar Object) atau kontak radio. “Catatan QSO, hanya dapat 1 DXCC, ya Indonesia. Saya belum berhasil QSO dengan entiti lain,” ungkapnya. Umumnya, para Amsat di Indonesia mampu menjalin komunikasi dengan AR dari Australia, Malaysia, Filipina, Thailand, Jepang, Tiongkok, dan beberapa entitas lainnya. Namun, bagi pemburu DXCC (DX Century Club), komunikasi satelit dianggap kurang membantu karena jumlah entitas yang bisa dikontak relatif terbatas. Selain itu, sifat komunikasi satelit yang cepat dan singkat, dengan durasi lintasan satelit yang tidak sampai 20 menit, menjadi tantangan tersendiri.

Para Pegiat Amsat dan Prestasi Luar Angkasa

Beberapa pegiat Amsat dikenal sangat aktif dalam mengembangkan dan berbagi pengetahuan komunikasi satelit. Di antaranya adalah Surono P. Adisoemarta (YD0NXX) dan Eddy Karsono (YC2YIZ), yang rajin memproduksi konten edukasi seputar komunikasi satelit. Dari berbagai call area, banyak nama-nama lain yang turut berkontribusi:

  • Call Area 9: Musa Anderson Kaseh (YD9MBM), Suparman (YD9GJH), Muhammad Rusli (YD9IQX), Yudistira Sukma (YD9IPB), Ralin (YD9IRE), Wawan Dharmawan (YD9IRF), dan Wawan (YD9IGP).
  • Call Area 3: Irfan Fanani (YD3IRF), Elok Lestari (YE3ERE), Prast Rahastu (YC3AMT), Eddy (YB3EDD), dan Yasir Zain (YF3FEO).
  • Call Area 6: dr. H. Eddy (YB6DE).
  • Call Area 4: Endang Setyawan (YE4LWU).
  • Call Area 7: Josef Capertin (YD7AMO).
  • Call Area 1: Liesda Riyani (YB1JYL) dan Muhlis (YB1OKU).
  • Call Area 5: Gusmanto (YD5NML).

Di antara para pegiat tersebut, Roland Aling (YC8RPK), seorang amatir radio asal Kelurahan Manembo-Nembo Tengah, Kecamatan Matuari, Sulawesi Utara, mencatatkan prestasi luar biasa. Pada Juni 2025, ia berhasil melakukan kontak dengan astronot NASA asal Jepang, Takuya Onishi, yang saat itu berada di luar angkasa. “Ini capaian luar biasa. Tidak banyak AR yang bisa melakukannya. Ada kepuasaan tersendiri bagi seorang AR ketika bisa kontak dengan astronot yang berada di luar angkasa,” demikian disampaikan dalam catatan tersebut.

Merakit Antena dan Teknis Komunikasi Satelit

Untuk memulai komunikasi satelit, YD9IHG berbagi pengalamannya menggunakan Handy Talky (HT) dengan antena yagi rakitan. Antena tersebut dibuat sendiri berdasarkan tutorial dari Eddy Karsono (YC2YIZ) di kanal YouTube-nya. “Dengan biaya murah, saya coba merakit antena cross band VHF 3 elemen dan UHF 5 elemen dan hasilnya lumayan bagus. Tidak ada hambatan saat transmit (TX) maupun receive (RX),” jelasnya. Selain antena rakitan, ia juga menggunakan antena superstik dual band.

Secara teknis, komunikasi satelit memerlukan radio VHF dan UHF. Sinyal dikirim (transmit) melalui frekuensi VHF dan diterima (receive) melalui frekuensi UHF. Ini berarti, idealnya, dibutuhkan dua HT: satu sebagai penerima dan satu sebagai pemancar. Namun, bagi AR yang memiliki HT dual band, satu perangkat saja sudah cukup dengan dukungan antena superstik dual band. Meski demikian, metode ini memiliki kelemahan, yakni tidak memungkinkan pemantauan respons balik dari satelit saat transmisi.

Dalam sistem ini, satelit berfungsi sebagai voice repeater, menerima sinyal dari bumi dan memancarkannya kembali. Menariknya, komunikasi satelit tidak membutuhkan daya besar; cukup dengan daya maksimum 5 watt.

IO-86: Satelit Kebanggaan ORARI untuk Komunikasi dan Bencana

Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) memiliki satelit komunikasi sendiri bernama IO-86, yang juga dikenal sebagai LAPAN-A2/LAPAN-ORARI. Satelit mikro buatan Indonesia ini diluncurkan pada tahun 2015, tidak hanya untuk komunikasi antar-amatir radio, tetapi juga memiliki tugas strategis dalam komunikasi bencana.

Satelit IO-86 dirancang dengan orbit ekuatorial, memungkinkannya melintasi wilayah Indonesia sekitar 14 kali sehari. Satelit ini menyediakan layanan Voice Repeater (VR) dan Automatic Packet Reporting System (APRS) yang sangat penting untuk komunikasi darurat (EmComm), terutama saat jaringan terestrial lumpuh akibat bencana. ORARI secara aktif memanfaatkan IO-86 untuk koordinasi bencana di area-area sulit sinyal.

Selain itu, IO-86 juga berperan dalam kegiatan Jamboree On the Air (JOTA) untuk memperkenalkan komunikasi satelit kepada anggota Pramuka, serta memantau pergerakan kapal laut di sekitar garis khatulistiwa melalui sistem Automatic Identification System (AIS). Dengan durasi lintasan yang singkat, sekitar 10-15 menit per lintasan, pelacakan cepat sangat dibutuhkan. Jadwal lintasan satelit ini rutin dibagikan melalui media sosial oleh akun @lapansat.

Meski IO-86 menjadi kebanggaan, amatir radio juga dapat memanfaatkan satelit lain dari berbagai negara untuk komunikasi, seperti ISS, AAUSAT, CAS-2T, Compass 1, EO-80, Al Farabi 2, Alsat, Angels, AO-10, AO-11, dan banyak lagi.

Kiat Sukses dan Perkembangan Mode Komunikasi Satelit

YD9IHG mengakui pengalamannya dalam komunikasi satelit terbatas pada IO-86 dan tidak terlalu sering. Namun, ia menekankan bahwa jenis komunikasi ini patut dicoba oleh setiap amatir radio, terutama bagi mereka yang belum memiliki radio HF. “Komunikasi satelit salah satu alternatif untuk bisa terhubung dengan AR lain di sejumlah negara,” ujarnya.

Untuk memandu jadwal lintasan satelit, amatir radio dapat memanfaatkan aplikasi “Detektor ISS” yang tersedia di Android. Kiat penting lainnya adalah memilih lokasi yang terbuka agar sinyal dapat diterima dan dikirim tanpa hambatan objek apa pun.

Wawan Dharmawan (YD9IRF), anggota Lokal Kabupaten Dompu, mengungkapkan kepuasannya berhasil mengumpulkan beberapa DXCC dari komunikasi satelit. Ia bahkan telah beberapa kali menjadi Net Control Station (NCS). “Salah satunya saat SES Festival Lakey dan HUT Kabupaten Dompu ke 210, tahun lalu,” kata Wawan. Selama tiga hari kegiatan tersebut, ia berhasil mencatat puluhan kontak dari seluruh Indonesia dan negara tetangga. “Itu pengalaman pertama saya menjai NCS kegiatan SES,” tambahnya.

Perkembangan teknologi juga membawa komunikasi satelit melampaui mode suara (phone). Kini, amatir radio dapat menggunakan mode digital seperti FT4, APRS, dan mode lainnya. Bagi yang tertarik untuk memulai, berbagai konten edukasi tersedia di YouTube dari para pegiat seperti Eddy Karsono, Surono P. Adisoemarta, dan Musa Anderson Kaseh.