Menasional.com — Puncak Adz-Zikrol Hauliyah ke-61 Ma’had Darul Qur’an Wal Hadits (MDQH) Al-Majidiyyah As-Syafi’iyyah Nahdlatul Wathan (NW) Anjani tidak hanya menjadi momentum pengajian dan pertemuan jamaah. Sejumlah tradisi pendidikan yang telah mengakar di lingkungan ma’had turut mewarnai rangkaian peringatan tahun ini.
Salah satu yang menarik perhatian adalah prosesi Serah Mayung Sebungkul bagi santri baru. Sebanyak 968 thullab dan tolibat, terdiri atas 491 banin dan 477 banat, mengikuti prosesi tersebut pada puncak Dzikrol Hauliyah ke-61, Kamis (27/8/2026).
Tradisi tersebut menjadi penanda dimulainya perjalanan pendidikan para santri baru di MDQH NW Anjani. Mereka datang bukan hanya membawa perlengkapan pendidikan, tetapi juga membawa amanah dari keluarga untuk menempuh pendidikan agama di lingkungan ma’had.
Serah Mayung Sebungkul menjadi salah satu tradisi yang terus dipertahankan sebagai bagian dari warisan pendidikan yang ditinggalkan pendiri Nahdlatul Wathan, Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.
Bukan Sekadar Seremoni
Di tengah kemeriahan Dzikrol Hauliyah yang dihadiri ribuan jamaah, Serah Mayung Sebungkul memiliki suasana tersendiri.
Prosesi tersebut memperlihatkan hubungan antara santri, orang tua, dan guru. Orang tua memberikan kepercayaan kepada lembaga pendidikan untuk membimbing anak-anak mereka, sedangkan santri memulai fase baru sebagai bagian dari keluarga besar MDQH.
Nilai yang terkandung di dalamnya bukan sekadar penerimaan santri secara administratif. Tradisi tersebut menjadi simbol kesiapan seorang santri untuk memasuki lingkungan pendidikan yang menekankan ilmu, adab, dan pembinaan keagamaan.
Hal tersebut juga sejalan dengan tradisi pendidikan NW yang menempatkan hubungan guru dan murid sebagai bagian penting dalam proses menuntut ilmu.
Cukuran Massal Jadi Awal Perjalanan
Sehari sebelum puncak Dzikrol, Rabu (26/8/2026), tradisi lain juga dilaksanakan, yakni cukuran massal bagi thullab dan tolibat baru.
Sebanyak 976 santri mengikuti prosesi cukuran massal tersebut.
Cukuran menjadi bagian dari rangkaian praacara menuju Dzikrol Hauliyah ke-61. Tradisi ini juga memiliki pesan simbolik tentang kebersihan lahir dan kesiapan batin sebelum seorang santri memulai proses pendidikan di ma’had.
Dalam pesan alumni pada puncak Dzikrol, Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi Dahlan, QH., MA, menjelaskan bahwa cukuran dapat dimaknai sebagai simbol masuknya santri ke lingkungan pendidikan dengan ketulusan dan kebersihan hati.
Menurutnya, proses menuntut ilmu membutuhkan keikhlasan, bukan hanya kecerdasan.
Tradisi dan Ilmu Berjalan Bersamaan
Rangkaian Dzikrol 61 juga memperlihatkan bagaimana tradisi dan kegiatan keilmuan berjalan beriringan.
Pada 26 Agustus, selain cukuran massal, dilaksanakan pula pengijazahan kitab bagi calon mutakharrijin dan mutakharrijat angkatan ke-61.
Kitab yang diijazahkan mencakup bidang tafsir dan hadis. Dalam rangkaian tersebut, kitab tafsir yang dibaca adalah Tafsir Showi, sementara bidang hadis menggunakan Ibanatul Ahkam.
Dengan demikian, kegiatan yang berlangsung menjelang puncak Dzikrol tidak hanya berisi seremoni, tetapi juga berkaitan langsung dengan perjalanan akademik santri.
1.175 Calon Alumni Bersiap Melanjutkan Perjuangan
Di sisi lain, Dzikrol Hauliyah ke-61 menjadi momentum bagi 1.175 mutakharrijin dan mutakharrijat yang akan menyelesaikan pendidikan mereka di MDQH NW Anjani.
Sebagian dari mereka memperoleh penghargaan sebagai lulusan terbaik. Sebanyak 25 mutakharrijin dan 17 mutakharrijat terbaik diumumkan dalam rangkaian acara.
Selain itu, sebanyak 94 thullab dan tolibat yang telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz turut diumumkan.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa Dzikrol Hauliyah bukan hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga menjadi titik pertemuan antara mereka yang baru memulai pendidikan dan mereka yang berada di penghujung perjalanan akademiknya.
Dari Santri Baru hingga Alumni
Gambaran tersebut terlihat jelas dalam Dzikrol Hauliyah ke-61. Santri baru mengikuti Serah Mayung Sebungkul, sementara calon alumni menerima pengijazahan dan menjalani berbagai prosesi menuju kelulusan.
Di tengah dua kelompok tersebut, hadir pula para alumni dari berbagai angkatan yang kembali ke almamaternya.
Prof. Fahrurrozi, misalnya, merupakan alumni angkatan ke-33 yang turut memberikan pesan dan kesan. Ia mengingatkan bahwa hubungan dengan ma’had tidak berhenti setelah seseorang menyelesaikan pendidikan.
Menurutnya, para alumni harus kembali ke tengah masyarakat dan melanjutkan perjuangan melalui bidang masing-masing.
Pesan tersebut menjadi salah satu benang merah Dzikrol Hauliyah ke-61: santri baru memulai perjalanan, calon alumni menutup satu fase pendidikan, sementara alumni lama kembali untuk mengingat dan meneruskan nilai perjuangan yang diwariskan Maulana Syaikh.
Dzikrol sebagai Titik Temu Generasi
Ketua Umum PBNW sekaligus Amidul Ma’had, Dr. TGKH. Lalu Gede Muhammad Zainuddin Atsani, dalam amanatnya juga mengingatkan para calon alumni untuk tidak berhenti belajar setelah tamat dari MDQH.
Ia mendorong para mutakharrijin dan mutakharrijat agar terus menimba ilmu serta menjadi pribadi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pesan tersebut melengkapi makna Dzikrol Hauliyah ke-61 sebagai pertemuan lintas generasi. Di satu sisi terdapat tradisi yang terus dipertahankan, sementara di sisi lain terdapat generasi baru yang dipersiapkan untuk meneruskan perjalanan pendidikan dan perjuangan.
Ketua Panitia Dzikrol Hauliyah ke-61, Muhammad Faisal Hamzah, sebelumnya menyampaikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan memang disusun sebagai satu kesatuan menuju puncak peringatan pada 27 Agustus 2026.
Rangkaian tersebut dimulai dari pelantikan panitia pada 5 Agustus, lomba desain poster dan video clipping masyayikh, Seminar Ke-NW-an dan Kebangsaan, Khutmil Qur’an, cukuran massal, hingga pengijazahan kitab.
Seluruh rangkaian kemudian bermuara pada puncak Adz-Zikrol Hauliyah ke-61 sebagai momentum untuk mengenang perjuangan Maulana Syaikh sekaligus mempertemukan kembali warga Nahdlatul Wathan dari berbagai generasi.
Sumber: Dokumentasi dan wawancara rangkaian Adz-Zikrol Hauliyah ke-61 MDQH NW Anjani, 26–27 Agustus 2026; keterangan Muhammad Faisal Hamzah, Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi Dahlan, QH., MA, dan Dr. TGKH. Lalu Gede Muhammad Zainuddin Atsani.
